“ Mengancam Kenangan”
Universitas PGRI
Semarang minggu lalu, tepatnya pada hari kamis, 8 oktober 2015 kedatangan tamu spesial
dari Teater Tikar. Teater Tikar adalah sekumpulan pemuda yang berkecipung di
bidang teater. Mereka menampilkan pementasan dengan tatanan panggung yang
dikemas seapik mungkin dan konsep dikemas semenarik mungkin. Pementasan
dilaksanakan pada dua waktu yaitu pukul 15.30 WIB- selesai dan pukul 19.30WIB -
selesai. Cerita yang diusung dalam pertunjukan teater tikar ketika itu adalah
“Mengancam Kenangan” karya Iruka Danishwara yang merupakan salah satu anggota
dari teater tikar. Naskah “Mengancam Kenangan” merupakan tafsiran atau
presentasi kemajemukan bahwa siapapun, bukan hanya manusia bahkan seluruh
makhluk bahkan benda atau apa dan siapa berhak memiliki kenangan.
Diceritakan seorang
perempuan yang amat sangat kesulitan untuk melupakan kenangan yang pernah ia
miliki bersama dengan orang yang sangat ia sayangi. Setiap pagi ia selalu
melakukan rutinitas kebiasaannya menyapu untuk memilah keriki-kerikil yang ada
dirumahnya. Ketika itulah wanita itu membayangkan akan kenangan-kenangan saat
sepasang kaki kecil menapak dan sepasang kaki besar menapakkan kaki-kakinya.
Hingga suatu ketika pemilik kaki besar itu hilang meninggalkannya entah kemana,
ia sama sekali tidak tahu. Kenangan-kenangan akan peristiwa tentangnya semakin
hari semakin lekat dalam ingatannya, belum lagi pemilik kaki kecil yang tidak
pernah lelah untuk menanyakan perihal dimana keberadaan ayahnya. Pemilik kaki
kecil itu selalu menyuruhnya untuk menceritakan bagaimana ayahnya, menanyakan
dimana keberadaannya. Semakin ia bercerita semakin ia merasa tersiksa batinnya,
namun semakin ia ingin menghilangankan kenangannya, ia pun semakin tersiksa.
Lantas bagaimana ia mampu melepaskan penyiksaan akan masa lalunya. Ia menyadari
bahwa kenangan tidak akan pernah bisa dilupakan. Kenangan memiliki awal cerita
namun tidak pernah memiliki akhir cerita. Selamanya kenangan akan selalu ada
dalam ingatan. Karena Ingantan dan rasa lah yang menghadirkan dan menyemayamkan
kenangan dalam jiwa.
Ia tidak hanya
kehilangan pemilik kaki-kaki besar yang pernah menapak di teras rumahnya, yang
pernah menemaninya, tetapi ia juga kehilangan pemilik kaki kecil. Peristiwa
yang sangat naas mengenai pemaksaan, ketika pemilik kaki kecil hendak di ambil
paksa, ketika pemilik kaki kecil berada dalam dekapannya, ketika telinganya
lekat dengan dadanya hingga mampu mendengar setiap denyut jantungnya, dan
ketika pelukannya kalah dengan serdadu-serdadu bertopi panci itu. Saat itulah
hanya pigura-pigura yang tertata rapi dirumahnya yang selalu mempertanyakan
atas segala kenangannya. Pigura-pigura itu tidak pernah lepas dari jamahan
tangannya, dan pigura-pira itu ia sembunyikan ke dalam laci kecil, ia berkeinginan
jika pigura-pigura itu diletaknya ke dalam laci ia tidak akan mengingat
kenangannya lagi. Namun tetap saja ia sering membuka laci itu dan sering Pigura-pigura
itu terkena tetesan kenangan yang menganca jiwanya.
Setiap hari ia
merindukan, setiap hari ia mengharapkan kedatangan pemilik kaki-kaki besar dan
pemilik kaki-kaki kecil datang menghampirinya dan kembali bersaamanya, namun
apa yang diharapkan hanyalah sebatas angan dan keinginan. Ia ingin melupakan
segala kenangan akan mereka. Namun semakin ia melawan kenangan itu, kenangan
itu semakin melawan untuk selalu hadir dalam pikirannya. Ia adalah wanita
kesepian yang selalu mengadu kepada malam karena ditinggal oleh pangeran yang
bersayap emas, dan ia adalah wanita yang selalu bercerita kepada pagi akan kenangannya.
Ketika malam tiba, coretan di dinding-dinding kamarnya semakin menguatkan
kenangan itu. Ia berkata “bagaimana bentuk kenangan yang kalian bawa-bawa itu.
Sekutu darimanakah ia? Apakah ia sebentuk makhluk? Atau ruh? Dimanakah ia
hidup? Dan mengapa ia bisa selalu ada? Bahkan ia mampu merasuki bayangan.
Apakah ia amat sangat kuat hingga kalian mau bersekutu dengannya?
Aku
berjanji tidak akan memusuhi pagi dan malam jika kalian,, wahai bulan dan
mentari...mampu menjauhkan aku dari kenangan itu.”
Ketika pagi datang ingatannya
kembali akan tragedi yang pernah terjadi, saat kepala melekat didadanya, saat
tangis meledak didadanya dan saat terdengar seribu serdadu datang
menghampirinya. dan saat ia mendengar “Tangkap anak lelaki itu! Ia
sama seperti Ayahnya! Bawa pergi anak lelaki itu, agar tidak menghilang seperti
Ayahnya!
Nyonya, lepaskan saja ia! Tidakkah kau lihat bahwa ia
akan menjadi seperti lelakimu yang pergi entah kemana bersama sayap emasnya?.” Saat itulah tangan yang awalnya mengenggam erat perlahan
lepas dengan sendirinya. Pigura-pigura yang tertata rapi di rumahnyalah yang
setia menemani kenangannya. Ia mengerti bahwa kenangan dan ingatan adalah dua
hal yang berbeda, tetapi keduanya saling berkaitan.
Anak lelaki pemilik kaki kecil itu masih belum menyadari
bahwa kedatangannya sangat ditunggu olehnya. Anak lelaki itu hanya mengingat
ihwal wanita pemilik aroma dalam bak mandi yang sama halnya mengancam
kenangannya. Jika tidak ingin tersiksa dengan kenangan maka dengan
menerima, menyaksikan, dan berlapang dada bahwa kenangan itu akan ada di
tempatnya pada seluruh sisa hidupmu adalah cara
yang paling tepat untuk kenanganmu.
Menangapi mengenai
pertunjukan teater tikar “Mengancam Kenangan” dari segi penataan panggungnya
menurut saya cukup membuat saya terkagum, dengan adanya patung manekim,
background hitam, kemudian seperti benang yang ditata sengaja tidak sejajar, dan
di tambah dengan berbagai warna cahaya (pencahayaan) semakin memberikan kesan menarik dan penasaran oleh penonton. Dari segi kostumnya lebih menggunakan
pakaian orang zaman dulu untu pemeran sebagai nyonya, untuk yang lainnya lebih
berkesan memberikan aura menakutkan karena memekai penutup kepala dan baju
seperti ada bercak darahnya. Dari segi pembawaan ceritanya menurut saya agak
kurang mampu membawa penonton hanyut dalam ceritanya, karena dari judulnya
mengancam kenangan yang saya kira seharusnya memberikan kesan sedih tetapi
menurut saya belum bisa membawa saya ke dalam kesedihan dalam cerita, karena menurut saya kurang sedikit sentuhan suara
yang agak diperhalus saja. Kemudian, karena banyak hal yang disimbolkan
penonton tidak bisa langsung menangkap maksud dari simbolnya secara cepat,
namun setelah ceritanya berjalan lama baru bisa dipahami maksud dari simbol
tersebut.
Sedikit saran dari
saya, dari segi olah vokal jangan identik dengan menggunakan nada tinggi saja,
tetapi juga diselingi dengan nada rendah dengan penghayatan yang sesuai dengan
peran dan situasi masing-masing agar penonton bisa terbawa dengan suasana
kesedihan karena disiksa oleh bayangan kenangan yang belum dapat ia lupakan.
Harapan kedepannya, semoga teater tikar mampu menghasilkan karya yang jauh
lebih baik , teruslah berkarya dalam seni teater, dan lain waktu bisa
berkunjung lagi di Universitas PGRI Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar