Kamis, 29 Oktober 2015

TAK SEKEDAR TULISAN


Wayang kampung sebelah merupakan wayang yang dikemas secara modern dengan memasukan unsur-unsur masakini atau mengikuti perkembangan zaman dengan kenyataan fakta yang ada disekitar kita. Unsur  budaya yang dikemas dalam bentuk wayang yang juga memasukan unsur musikalisasi membuat wayang kampung sebelah lebih menarik dan tidak membosankan, komedi yang dimunculkan menggambarkan fakta yang ada di dalam lingkup masyarakat Indonesia, contohnya adanya budaya pemilihan pemimpin disetiap jenjang yang menggunakan uang suap agar menarik minat masyarakat untuk memilih calon pemimpin, mana yang memberi uang paling banyak maka otomatis banyak juga yang memilih calon tersebut serta sebaliknya. Uniknya dalam pertunjukan wayang kampung sebelah ada tokoh Kampret yang menjadi penengah yang juga merupakan ciri penokohan yang lucu, karena disatu sisi dia membela tetapi disisi lain juga dia malah tidak membenarkan, tokoh Kampret sangat menggambarkan ciri orang yang ada dalam kenyataan sekitar kita sebagai penengah yang bukan membuat tegang tetapi membuat pihak tertentu menjadi tanggap walaupun tanggapan itu dikemas dengan humor yang menggelikan, kata-kata yang spontan membuat antar tokoh menjadi kebingungan dan berfikir satu sama lain sehingga dapat berfikir mana baiknya, tetapi pada kenyataan yang ada dalam masyarakat sekitar kita budaya tersebut mungkin sudah lama dilupakan karena lebih mengutamakan diri sendiri. Tokoh Polisi yang dimunculkan dalam wayang kampung sebelah yang pada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari serta dari pengalaman pribadi sosok polisi sering dijadikan bahan pebicaraan di masyarakat karena kebanyakan polisi yang diketahui masyarakat hanya bisa meminta uang dari orang-orang yang melanggar peraturan lalu lintas, tetapi dalam pertunjukan wayang sebelah sosok polisi malah menjadi sosok yang bingung karena ketika berbuat benar belum tentu menurut masyarakat itu benar padahal ajuan dari polisi juga baik untuk diri masyarakat, ketika tidak bertindak polisi diminta harus berbuat ini berbuat itu padahal apa yang dilakukan polisi belum tentu disetujui masyarakat.

Tokoh yang digambarkan seperti polisi, pejabat pemerintahan, rakyat biasa, maupun tokoh yang lain sangat mudah dikenal oleh penonton. Karakter tokohnya mengesankan, tokoh yang biasanya dianggap tegas justru menjadi lucu dalam cerita ini. Tokoh pejabat yang seharusnya penjadi panutan dalam masyarakat, di dalam cerita ini digambarkan dengan tokoh yang egois dan tidak berani mengambil resiko. Berbagai tokoh dengan karakternya menjadi hiburan tersendiri bagi penonton. Ditambah lagi dengan tokoh kampret sebagai penegah yang membuat jalan cerita tidak membosankan.
            Dalang yang memainkan wayang dalam pertunjukan ini bisa membuat karakter suara yang berbeda. Walaupun yang memainkan hanya satu orang, tapi penonton dapat membedakan tokoh yang sedang bicara melalui intonasi dan cara dalang berbicara. dalang dalam wayang kampong sebelah ini bisa membuat penonton tertawa dengan caranya mengisi suara.

Tema yang diambil dalam wayang kampung sebelah ini dekat dengan lingkungan sekitar. Dengan adanya pertunjukan ini, orang dapat menilai dan berpikir bahwa menjadi seorang pejabat dan wakil rakyat tidak hanya sebatas bekerja untuk mencari uang, tetapi wakil rakyat harus benar-benar mengabdi pada rakyat  dan mencari solusi yang tepat untuk setiap permasalahan yang terjadi. Seorang pejabat tidak boleh bermalas-malasan dan mencari aman saja ketika sedang dilanda suatu permasalahan. Kalau hanya dengan cara menyalahkan satu sama lain, permasalahan hanya akan semakin panjang dan tidak dapat terselesaikan dengan baik.
            Adanya pertunjukan wayang kampung sebelah ini selain  menghibur dan menjadi pelajaran bagi penonton juga dapat dijadikan inspirasi bagi generasi muda untuk tetap berkarya dan dapat melestarikan budaya. Untuk melestarikan budaya, sebagai generasi penerus harus dapat membuar karya yang lebih menarik agar tidak menjenuhkan.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar